Alasan Kenapa Satelit Tidak Hancur di Luar Angkasa - SMK Penerbangan

Friday, February 18, 2022

Alasan Kenapa Satelit Tidak Hancur di Luar Angkasa

Tentu berada di pikiranmu, jika ada benda menempati di angkasa kenapa tidak jatuh ke bumi? Bulan sebagai satelit alami bumi, tak pernah jatuh. Kira­-kira mengapa begitu ya?

Satelit biasanya terdiri dua yakni: satelit alam dan satelit bikinan atau disebutkan satelit artifisial. Ke-2 nya bergerak berdasar orbitnya masing­masing. Orbit sebagai lajur pelintasan benda langit yang melingkar mengelilingi bumi.
Alasan Kenapa Satelit Tidak Hancur di Luar Angkasa



Lalu, kenapa tidak jatuh? Satelit mengelilingi bumi pada kondisi cepat supaya tidak jatuh, pikirkan saja bola tenis yang kamu lempar cepat pasti melaju jauh dan jatuh lama, tetapi jika lemparanmu kurang kuat, bola tenis cepat jatuh, begitu halnya satelit.

Argumen seterusnya, satelit ada jauh dari gravitasi bumi. Selainnya mempunyai tujuan menahan jatuh ke bumi, kehadirannya yang jauh dari bumi supaya tidak bersinggungan dengan atmosfer saat melaju cepat.

Supaya bergerak cepat, satelit dikeluarkan dari bumi memakai roket ke arah orbitnya dengan kecepatan tinggi, sesudah capai ketinggian tertentu satelit akan melaju kuat ikuti orbit sekencang 29.000 km/jam, pada nanti roket akan melepas satelit dan kembali lagi ke bumi, satelit terus akan berputar-putar dengan kecepatan stabil ikuti orbitnya.

Ketinggian satelit bermacam, makin tinggi kehadirannya memiliki arti makin lama dia akan mengudara. Makin rendah satelit, makin sesaat waktunya bekerja.

Satelit yang pertama mengorbit dalam riwayat ialah Sputnik, bikinan Rusia, pada 4 Oktober 1957. Satelit ini buat terkejut beberapa negara barat lho. Masalahnya mereka menduga Rusia tidak sanggup mengirim satelit ke orbit.

Untuk sekarang ini satelit paling besar yang ada dipunyai oleh beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, yakni International Ruang Station.

Satelit ini sudah dikeluarkan semenjak 1998 dan masih bekerja sampai sekarang, dan tempo hari jadi tempat eksperimen berkebun pada ketinggian 600 km dari permukaan bumi.

Share with your friends

Featured

[Featured][recentbylabel]